dengar resapi
ucapkan dan jangan berhenti
karena semua pertanyaan perlahan menghampiri
mendekat dan merusak sistem kerja otak kiri
setiap detik berdetak, menusuk-nusuk di hati
kembali terlihat raut wajahmu di angan
taburan cinta mengikuti semua senyuman
tapi dalam hati ini tak bisa ungkapkan
nyaliku menciut, terlalu siang ‘tuk diucapkan
sekali lagi ku ingin kau mengerti
rasa cinta ini sungguh sangat menyakiti
tapi ku hanya makhluk yang tidak bermateri
dipandang sebelah mata, tak punya reputasi
reff:
seakan mataku tertutup
kuingin cinta ini dapat kau sambut
harapkan perasaan ini kau tahu
sungguh ku ingin kau jadi milikku
ingin sekali ku katakan ‘aku suka padamu’
namun cinta ini siksa jika ku ‘gak ada kamu
hendak jiwa kan memikatmu di sisi
namun berat untuk mengucap, cukup untuk kukagumi
A-B-C-D, ku harap kau mengerti
semua ini bukan cerita narasi deskripsi
hanya perasaan suka namun sulit hati berkata
bukan fiktif sedikit naif hanya sebuah realita
cinta ini derita kuharap kau juga merasa
apa yang kurasa tanpa banyak tanda tanya
rasa ini fakta, selektif bukan posesif
ku tak ingin berdusta
ku cinta kau Bunga
reff:
seakan mataku tertutup
kuingin cinta ini dapat kau sambut
harapkan perasaan ini kau tahu
sungguh ku ingin kau jadi milikku
dapat kucinta kala fiagram bagai sebuah media
cinta berlepas birahi tanpa disertai kata jiwa dan raga
kulihat karya semua berbeda, pandanganku takkan pernah sama
dirinya aku cinta dengan pandangan yang tak sama
lelah; melepuh; bahkan memvonis diriku salah
dengan berjuta inaugurasi takkan menghasilkan apa-apa
karena cinta tercipta sebagai puas nafsu semata
takkan mengerti arti cinta karena kau hanyalah Bunga
back reff:
seakan mataku tertutup
kuingin cinta ini dapat kau sambut
harapkan perasaan ini kau tahu
sungguh ku ingin kau jadi milikku
Minggu, 19 Desember 2010
Bondan-bunga
Alfi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tak seorangpun meragukan kehebatan sang Proklamator. Kepiawainya dalam berorasi membuat namanya tak hanya dikenal di seantero negeri. Afrika hingga ujung Amerika Selatan mengenalnya dengan baik sebagai seorang tokoh besar yang mempunyai peran kuat di Asia, Afrika bahkan hingga dunia. Dialah tokoh besar dari sebuah negeri baru merdeka tetapi dengan gagah berani mengatakan "Go to Hell with your aids!", terhadap si negeri adidaya, Amerika Serikat. Sayang ..., hingga detik ini tak seorangpun tokoh negeri ini mampu meniru atau mewarisi kehebatan dan keberanian Sang Pahlawan Besar tersebut. Mental kerdil penakut sudah menjadi penyakit kronis yang menggerogoti jiwa anak negeri. Buh ..... sungguh memalukan sebenarnya. Ternyata tak satupun punggawa negeri super kaya dan super besar ini seberani Sukarno untuk barang sekedar mempertahankan harga diri dan martabatnya ... memalukan ... sungguh .... !!!
0 komentar:
Posting Komentar